Humm,, intro yang enak gimana yahh ??
Okeyy, first of all, mungkin pembaca ada yang nanya, kenapa gw pake kata “Melesek”, bukan kata dalam bahasa Inggris… No, bukannya gw ga’ tau apa bahasa Inggrisnya hummm… *Ga’ tega nyebutnya :p*
Yah, bahasa kerennya si “Pesek” (kesebut juga :D). Gw tau ko, bahasa Inggrisnya,, beneran. What, lo mau tau apa bahasa Inggrisnya? Yahh, pokoknya gw tau dehhh… Lo coba cari aja di kamus ato ketik di gugel translet, ada pasti :D.
Okey, mulai aja ya pembicaraan kali ini. Abangnya mau burur-buru kampanye buat pemilihan CALEG Kecamatan JEMBer-UTara (jangan disingkat,, pliss jangan :D).
Dalam budaya Indonesia, terlihat ada beberapa kecenderungan diskriminatif terhadap mereka yang “berkekurangan”. Salah satunya mereka yang memiliki kekurangan dalam hal level “kemajuan hidung”. Nenek moyang kita mengenalnya dengan sebutan PESEK.
Banyak gw denger di sekitar kita, pesek menjadi bahan ledekan bagi beberapa orang. Beberapa juga menganggap itu aib ( yang ini gw ngarang sendiri :p). Entah karena sebagian penduduk Indonesia memiliki kontur hidung normal, atau memang kita aja yang suka cari-cari kekurangan orang lain .
Padahal, menurut penelitian Mamang Profesor Sanusi Junaedi Asmadji, SPK. Mck. Banyak sisi positif yang dihasilkan dari keberadaan mereka yang *maaf* pesek…
Contohnya aja gini:
1. Orang Pesek Hemat Oksigen
Yupp,, ini keutamaan orang pesek yang paling keliatan. Mereka napasnya hemat. Gimana ga’ hemat, lobang masuk oksigennya aja sempit banget. Belom tentu setiap kali tarikan oksigen bias masuk. Tapi lo harus bisa ngebedain mana orang pesek sama orang jadi-jadian kaya' gambar ini:
Yang kanan itu gambar orang *maaf* pesek, sedangkan yang kiri itu gambarnya akang Voldemort, musuh bebuyutannya mas Heri Poter. Kalo yang kanan itu manusia tulen, nah yang kiri bisa kita sebut manusia jadi-jadian, karena dia udah ngorbanin sisi manusianya buat ngedapetin kekuatan sihir yang hebat.

